indomietelorkeju

indomietelorkeju
Bergelap-gelaplah dalam terang, berterang-teranglah dalam gelap. Tan Malaka

Total Pageviews

Wednesday, 19 June 2013

Pandangan kebijakan BBM dari salah satu mahasiswa ekonomi

Halo, dengan resmi berakhirnya semester 6 akhirnya postingan ini dibuat. Ibaratnya postingan ini merayakan berakhirnya semester 6. Semester yang ibarat novel. Kali ini saya ingin membuat pandangan dari pandangan saya sendiri, yang merupakan mahasiswa jurusan ilmu ekonomi yang jelas sangat erat kaitannya dengan kebijakan tentang BBM ini. Tapi sebelum menyuarakan pendapat dan segelintir fakta tentang BBM ini harus ada asumsi asumsi yang ditaati (kalau emang mau baca postingan blog ini)

1. Ini murni pendapat saya, tidak ada intervensi kanan kiri, etc. Pendapat saya ya datang dari saya sendiri, dan kalau pun tidak sejalan, ya tidak apa apa, setuju pun tidak apa apa. Saya bebas
2. Saya cuma mahasiswa ekonomi yang tidak pintar pintar amat, jadi  minta maaf mohon koreksinya kalau misalkan, teori atau fakta yang dipaparkan ada yang salah.. Sangat dibutuhkan segala pembetulan pembetulan
3. Pandangan yang saya berikan cukup aneh, karena pandangan orang orang berbeda, dan setiap orang punya hak atas ciri khasnya tersebut, betul?
4. Saya tidak pernah memaksa untuk membaca, atau merayu untuk setuju dengan pendapat ini. Atau kalau ada kesamaan isi, itu tidak disengaja, dan isi yang menyinggung saya minta maaf karena tidak bermaksud
5. Clear?

Oke saya pribadi mau bahas dari teori makroekonomi 2 yang pernah saya pelajari, untuk matkul ini nilai saya tidak superior superior amat tapi lumayan mengerti sedikit. pencabutan subsidi BBM berarti, terjadi pengurangan pengeluaran pemerintah (G) dimana ini adalah kontraksi fiskal terjadi disana. Apa yang terjadi jika terjadi kontraksi fiskal? Kontraksi fiskal akan menyebabkan kurva IS ke kiri bawah Keseimbangan terjadi di bawah kurva BOP (Asumsinya mobilitas modal negara kita sempurna), jadi yang terjadi adalah defisit BOP. Dan terjadi penurunan output (Y) ke titik yang baru. Agar ini diminimalisir maka kurva LM harus bergeser ke kanan bawah dengan melakukan kebijakan ekspansi moneter dengan menambah jumlah uang beredar, yang akan mengangkat tingkat output naik perlahan walau tidak sebesar awal. Dengan naiknya money supply potensi untuk terjadi inflasi sangat tinggi, dan apa yang terjadi kalau inflasi? Yah. Barang harga naik. Oke kita finish dahulu disini. (Kalau penjelasan diatas salah mohon koreksinya)

Saya akui saya menggunakan pendekatan Kurva IS-LM dan BOP untuk mengacu permasalahan ini. Teoritis? Memang, sengaja karena aline alinea selanjutnya akan penuh dengan asumsi. Dan mungkin ada salah di beberapa bagian. Tapi mari kita asumsikan untuk beberapa menit ini, teori diatas itu benar. Kenaikan BBM akan menurunkan output pada jangka pendek tapi pada jangka panjang output akan pulih kembali. Tapi ingat bahaya inflasi ini mengancam. Oke ingat inflasi. dimana harga harga akan naik tajam tergantung seberapa besar tingkat inflasi. Inflasi tidak selamanya buruk kok, karena bisa ngasih effort ke produsen selama masih di batas kewajaran. Emang yang engga wajar gimana? liat krisis moneter 98. No comment.
Catet inflasi dan harga barang naik ya. Soalnya ini yang mau saya bahas, bukan tentang cadangan devisa, minyak etc kaya pembahas lain. Tapi saya mau bahas itu dulu sedikit deh hehe

Indonesia saat ini hanya memiliki cadangan minyak 4 miliar barel dengan 240 juta penduduk, Cadangan minyak Indonesia jauh dibandingkan Venezuela yang memiliki 297,6 miliar barel dan penduduk 29,3 juta jiwa. Sementara itu, Arab Saudi memiliki cadangan minyak 267 miliar barel dengan penduduk sebanyak 28 juta jiwa. Sumber (http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/421987-kenaikan-harga-bbm-perpanjang-umur-cadangan-minyak-ri) Oke dari fakta diatas, memang miris kalau anak atau cucu kita engga kebagian cadangan minyak.

Terus dana buat subsidi seberapa besar buat minyak ini? Nilai subsidi 2012 mencapai Rp 346,4 triliun atau 34,33 persen dari belanja pemerintah pusat. Tak kurang dari 61,17 persen dari total subsidi dialokasikan untuk BBM (Rp 211,9 triliun) dan 27,30 persen untuk listrik (Rp 94,6 triliun). Subsidi pangan, pupuk, benih, kredit program, dan lain-lain hanya Rp 39,9 triliun atau 11,53 persen dari total subsidi. Sumber
(
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/06/18/0746006/Hitunghitungan.Subsidi.BBM.)

Siapa aja yang menikmati? Data Kementerian ESDM menunjukkan, proporsi BBM bersubsidi dinikmati oleh: 1) pemilik mobil (53 persen) dibandingkan pemilik motor (47 persen); 2) masyarakat di Jawa dan Bali (59 persen); dan 3) angkutan darat (89 persen). Tercatat 25 persen rumah tangga berpenghasilan tertinggi menikmati 77 persen subsidi BBM dibandingkan 25 persen rumah tangga berpenghasilan terendah yang hanya menikmati 15 persen subsidi BBM (Kementerian Keuangan, 2012)

Gimana abis liat fakta fakta diatas? Makin pro kan kalau BBM dinaikin dan dihapus subsidinya? Emang rada ngeri sih diatas 60 persen subsidi abis buat BBM dan yang paling menikmati adalah pemilik mobil yang identik berkemampuan ekonomi ke atas yang 77 persen dapet subsidi . Hmm. Trickle down effect? Dari fakta fakta diatas maka keinginan untuk pro pasti semakin kuat kan? Tapi

Kita beberapa bulan lagi menginjak bulan suci ramadhan dimana di bulan ini, menurut pendekatan ekonometrika dan yang sudah saya pelajari, tingkat perputaran uang disini sangat berputar cepat dan juga volatilitas harga dan instrumen keuangan sangat bergerak cepat, lebih cepat dari bus malam antar provinsi malahan. Kenapa sebegitu cepat sih? Kita semua perlu sama sama setuju kalau di bulan puasa, tingkat konsumsi, tingkat pendapatan, tingkat demand untuk barang dan jasa (hiburan, entertain saat sahur buka) itu naik tajam, mungkin ini semacam the power of moment kali ya. Jadi intinya? Ya, bulan puasa dimana tingkat ekonomi di Indonesia sedang mengalami penggendutan sekaligus pergejolakan dimana-mana, unstable condition? In disguise maybe.

Terus apa hubungannya sama kenaikan BBM? kenaikan BBM ibarat kunci untuk membuka pintu pintu seperti kenaikan TDL, kenaikan barang pokok (liat aja BBM belum naik barang pokok udah naik), dan kenaikan kenaikan lainnya karena terserang virus yang sebenernya engga terlalu menular parah, ya virus BBM. Hype kenaikan BBM ini emang terlalu sensitif di Indonesia makanya banyak orang orang naekin semuanya tanpa alasan jelas. Oke itu satu yang harus diantisipasi pemerintah. Tapi alesan berikutnya yang menurut gua bikin ngeri.

Puasa,BBM,inflasi,unstable economy. 4 Kata yang mensponsori saya membuat postingan ini. Ya! Kebijakan ini menurut saya salah pada waktunya, not a right thing in the right time and place. Bulan puasa itu seperti dijelaskan diatas tadi bulan bulan kegiatan ekonomi lagi gencar gencarnya. Dan menurut pendekatan teori yang awam yang dijelaskan oleh saya di awal paragraf, inflasi akan segera datang pada jangka panjang. Terus apa yang terjadi ketika mau puasa, BBM naik? Harga otomatis naik ketika demand lagi naik naiknya, Semua naik. Yang terjadi? Krisis moneter karena harga menjulang di saat kondisi tidak stabil? Bisa jadi mudah mudahan jangan. Ketidakstabilan dan volatilitas yang susah diprediksilah yang saya takutkan sebenarnya. Keseimbangan uang, moneter dan pasar barang riil sudah sahih akan berubah, entah ke arah baik atau tidak.

Intinya ini saya setuju atau tidak? Saya setuju naik kok dengan beberapa poin:
1. Timing pas. Tegas.
2. Jangan mengulur mengulur atau semacam gertak sambal, karena efek tidak langsung saat mengeluarkan isu "BBM NAIK" itu sangat parah. Bangsa ini sensitif dengan kata "BBM NAIK"
3. Kebijakan konsisten tidak berubah ubah, kalau memang awalnya buruk, jalankan saja dulu yang penting finish akhirnya baik, asal konsisten
4. Transparasnsi alokasi dana subsidi kemana itu harus jelas
5. Dana BLSM diharapkan di alirkan dengan benar tidak ada pungli atau permainan. Harapan terbesar ya nomor 5 ini. kalau bisa dana BLSM ini bisa diubah wujud menjadi sesuatu hal yang bisa menyerap tenaga kerja. UKM seperti contohnya. Jangan melulu indonesia terus disuapi tanpa tahu cara memakai sendok seperti apa
Jadi intinya saya mendukung atau tidak? Tidak untuk sekarang. Anda?


2 comments:

  1. tulisan yang keren banget,,,
    melambangkan anak IE banget -salutt-
    maaf yah tiba-tiba nongol...he...soalnya saya suka baca blog orang :D

    oh ia,,,analisis subsidi BBM di atas yang pake IS-LM itu mirip sama analisisku pas jawaban Ekomon tadi...
    ternyata ada yang sama analisisnya, semoga aja deh bener,,,

    coba tulisan ini kirim aja ke media massa yang bisa dibaca banyak orang...kayak kompas gt

    ReplyDelete
  2. hahahah iya dil mudah mudahan bagus nilainya. btw pas tadi gw ngisinya ga kaya gini, ngeblank tadi mah. haha iya dil pengennya hehe

    ReplyDelete